Langsung ke konten utama

Classroom of the Elite 2nd Year Volume 2 Epilog

Epilog : Ketenangan Sebelum Badai


Upacara penutupan semester pertama datang lebih cepat dari perkiraan.

Setelah ini, kami akan melakukan kegiatan selanjutnya.

Sudah satu tahun lamanya sejak terakhir kali kami meninggalkan sekolah, sebentar lagi kami akan menuju pelabuhan. Lalu menaiki kapal dan berlayar ke pulau tak berpenghuni yang belum kami ketahui. Tanpa mendapatkan waktu jeda, kami akan melaksanakan ujian khusus keesokan paginya. Para siswa diminta berkumpul di kelas untuk menerima penjelasan singkat, lalu kami pergi ke kelas masing-masing dan menunggu Wali Kelas kami datang. Sementara itu, kalimat singkat [Apa tidak ada yang tertinggal?] ditampilkan pada layar monitor untuk pemeriksaan akhir.

Siswa di izinkan membawa pakaian dalam ganti untuk seminggu, karena sangat penting untuk menjaga kebersihan. Siswa juga di izinkan membawa ponsel, tapi pada awal ujian ponsel akan disita. Meskipun tidak ada larangan untuk membawanya, ponsel hanya akan menambah barang bawaan karena tidak ada sinyal di pulau tersebut. Mungkin itu akan berguna ketika membayar denda atau membeli barang di kapal.

Sambil menunggu bunyi bel yang menandai awal pertempuran, Keisei memeriksa sekali lagi barang bawaannya dan memastikan tidak ada yang tertinggal, setelah itu dia datang ke tempat dudukku. Wajahnya terlihat suram.

"Sejujurnya, ujian khusus di pulau tak berpenghuni bukanlah bidangku, ini sama seperti 'meraih awan'."

(Tl note : ' kata istilah. Artinya bisa dibilang mustahil)

"Yah, tak heran jika kau berkata begitu, sebab ini jauh dari norma kehidupan sehari-hari."

"Tapi ujian ini jauh lebih sulit untuk para gadis, sebagai laki-laki, aku tidak boleh mengeluh."

Tidak seperti siswa laki-laki, ada beberapa kesulitan khusus untuk siswa perempuan, ujian semacam ini kurang cocok untuk para gadis.

Tentu saja sekolah sudah melakukan perhitungan sebaik mungkin, tapi hasilnya tidak begitu berpengaruh.

"Meskipun kita berkompetisi di kelompok yang berbeda, aku akan membantu semampuku."

Meski ujian khusus ini bukan bidang yang dia kuasai, Keisei menyatakan tekadnya untuk membantu dan melindungi teman-teman.

"Ya, kau benar. Aku yakin ada cara bagi kita untuk bekerja sama, aku juga akan membantu ketika waktunya tiba."

Aku juga berjanji akan membantu.

"Tapi, apa kau benar-benar tidak apa-apa sendirian? Seandainya kau jatuh sakit dan menerima penalti, kau harus membayar 6 juta poin… jika tidak sanggup membayar, kau akan dikeluarkan pada saat itu juga."

"Setidaknya, kehadiranku yang penuh selama ini adalah salah satu hal yang bisa aku banggakan."

"Belakangan ini, kau terdengar agak sarkastik, tahu?"

Keisei tertawa dan kembali ke tempat duduknya.

Tak lama kemudian, bel yang menandakan awal dari pertempuran berbunyi, lalu 39 siswa Kelas 2-D duduk di kursi masing-masing.

Ketika memasuki ruang kelas, wajah Chabashira menjadi serius dan membuat suasana menjadi berat.

"Padahal hari ini adalah awal liburan musim panas, tapi kalian tampak kurang semangat. Yah, kurasa itu wajar."

Chabashira mulai mengaktifkan layar monitor dan tablet miliknya.

"Kalau begitu, mari kita mulai pemeriksaan akhir. Jika ada dari kalian yang merasa tidak enak badan, beritahu aku sekarang juga."

Pemeriksaan kondisi fisik dan barang bawaan. Kemudian jadwal dan barang-barang yang diperlukan, semuanya ditampilkan sekaligus. Untungnya, tidak ada siswa Kelas 2-D yang sakit, jadi pemeriksaan berjalan dengan lancar. Kouenji yang memilih bertarung solo, patuh mengikuti pemeriksaan ini.

"Sepertinya tidak ada masalah, baguslah."

Beberapa menit kemudian, setelah memeriksa semua barang yang diperlukan sebelum keberangkatan, Chabashira mematikan monitor.

Kemudian, untuk menarik perhatian semua orang di kelas, dia mengetukkan tangannya ke meja podium dengan lembut (pelan).

"Ini bukan pertama kalinya kalian mengikuti ujian khusus. Kalian telah berjuang di sekolah ini selama lebih dari satu tahun, dan berhasil mengatasi berbagai rintangan. Namun, ujian khusus kali ini takkan mudah untuk dilalui."

Ini semacam nasihat dari Chabashira, atau bisa dibilang sebuah peringatan.

Kami tidak boleh lengah, itulah nasihat yang diberikan oleh Wali Kelas 2-D.

"Tidak dapat dipungkiri bahwa tingkat kesulitan ujian ini lebih tinggi dari pada ujian khusus yang pernah kalian hadapi sebelumnya."

Chabashira menatap kami dengan saksama, dia seolah-olah ingin mengukir wajah setiap siswa di ingatannya.

"Aku ingin meminta satu hal pada kalian. Sebisa mungkin, jangan sampai ada yang menghilang dari kalian, dan kembalilah ke kelas ini sekali lagi."

Chabashira berharap ujian ini tidak akan menjadi tiket satu arah bagi kami.

"10 menit lagi kita akan berkumpul di lapangan dan mengambil absen. Kalau perlu, pergilah ke toilet selagi sempat."

Para siswa terburu-buru meninggalkan kelas, karena tidak banyak waktu yang tersisa.

Ketika anggota grup Ayanokouji berkumpul di dekat kursiku, aku berdiri dan membawa barang-barangku.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Kouenji juga berdiri dari kursinya dan memanggil salah satu siswa.

"Bisakah kita bicara sebentar, Horikita-Girl?"

Perilakunya yang tidak biasa ini bukan hanya menarik perhatianku saja, tapi juga para siswa yang masih berada di kelas.

"Tumben sekali kamu mengajakku bicara."

Horikita yang dipanggil oleh Kouenji juga berpikiran sama.

"Ada yang ingin kubicarakan tentang ujian khusus ini."

"Ooh, akhirnya kamu memutuskan untuk membantu, ya?"

"Anggap saja setengahnya benar."

Horikita merasa curiga dengan kata-kata Kouenji.

Dia tahu betul bahwa Kouenji bukanlah orang yang mau bekerja sama.

"Kalau begitu, apa tujuanmu? Bisakah kamu memberitahuku setengahnya lagi?"

"Poin kelas untuk tiga kelompok teratas, kau sangat menginginkannya, bukan?"

"Tentu saja. Tergantung poin yang diperoleh, posisi kelas bisa saja berubah secara signifikan."

"Kalau begitu aku ingin menawarkan satu hal padamu. Jika aku mendapatkan hasil yang bagus di ujian ini, aku ingin kau berjanji memberiku kebebasan penuh sampai hari kelulusan."

Pernyataan Kouenji yang mencengangkan itu membuat para siswa di kelas terdiam untuk sesaat.

Meski ada syaratnya, dia bersedia mengikuti ujian khusus ini dengan serius.

"Menjanjikan kebebasan penuh… itu proposal yang tak terduga. Maksudmu, kamu ingin aku membiarkanmu bertindak sesuka hati?"

"Tepat sekali! Tapi bukan hanya itu saja, kau juga harus bekerja keras untuk menghilangkan semua rintangan yang menghalangiku."

Misalnya.. seperti ujian pemungutan suara yang diadakan tahun lalu. Jika ujian khusus untuk mengeluarkan siswa yang tidak diperlukan dalam kelas diadakan lagi di masa depan, Horikita harus melindungi Kouenji tanpa syarat.

"Itu bukan sesuatu yang bisa aku setujui dengan mudah. Semua orang di kelas mungkin juga berpikir begitu."

Selama jadi bagian dari kelas, setidaknya kau harus mau bekerja sama.

Tidak mudah mendapat izin untuk meninggalkan peran tersebut.

"Anggap saja ini adalah kontribusiku sampai hari kelulusan."

Kouenji menawarkan diri untuk berkontribusi dalam ujian khusus kali ini, setelah itu dia akan bertindak sesuka hati, kira-kira begitulah kesepakatan yang dia tawarkan.

"Sepertinya kamu juga bisa merasakan krisis. Aku yakin teman sekelas yang lain tidak akan mengizinkanmu bertindak sesuka hati. Jika ujian khusus seperti pemungutan suara diadakan lagi, kamu pasti akan kewalahan."

Tergantung isi ujian, bahkan Kouenji sekalipun juga akan kesulitan menghindari krisis.

"Kamu tidak perlu sampai mengajukan tawaran seperti itu. Apa kamu tidak bisa bertindak seperti siswa lain?"

Horikita menolak tawaran Kouenji, dengan kata-kata yang masuk akal.

Tapi menolak tawarannya sekarang, juga tidak akan membuat Kouenji mau bekerja sama di ujian khusus yang akan datang.

Sekalipun dia mau bekerja sama, palingan itu hanya saat dia sedang terpojok.

Dalam hal itu, memotivasi Kouenji menghadapi ujian khusus ini dengan serius juga merupakan sebuah pilihan, tapi...

"Maaf, tapi aku sangat menghargai bakatmu, Kouenji-kun. Aku tidak bisa membiarkanmu berperan di ujian ini saja dan menjadi penonton di ujian yang akan datang."

Setelah mempertimbangkan berbagai hal, Horikita mengatakan keputusannya.

"Jadi begitu. Berarti negosiasi gagal, ya?"

"Tidak juga―Kalau aku boleh menambahkan beberapa syarat, aku akan menerima tawaranmu."

Untuk sesaat Horikita seperti menolak, tapi kelihatannya dia punya pemikiran lain.

"Hanya mendapatkan hasil yang bagus saja tidaklah cukup. Sekolah telah menyiapkan hadiah yang layak untuk peringkat pertama. Jika kamu bisa meraihnya seorang diri, itu mungkin bisa jadi alasan yang cukup untuk mempertimbangkannya sebagai kontribusimu sampai hari kelulusan."

Seandainya Kouenji yang tidak membentuk kelompok dengan siapa pun memenangkan ujian ini seorang diri, dia akan menerima 300 poin kelas. Itu bisa dikatakan sudah cukup sebagai kontribusinya hingga lulus. Namun tidak mudah untuk meraih peringkat pertama dalam ujian ini, sekalipun itu Kouenji, karena jumlah pesaing ada lebih dari 100 kelompok.

"Fufufu, begitu ya. Memang benar, kau tidak akan puas jika aku tidak meraih peringkat pertama, kan?"

Kouenji tertawa dengan keras setelah mendengar syarat tersebut.

"Baiklah, bisa disimpulkan bahwa kita sudah sepakat."

"Tidak, itu belum cukup."

Horikita segera memotong perkataan Kouenji, yang menerima kesepakatan tidak masuk akal itu.

"Aku belum mengatakan semua syaratku. Aku sudah berusaha untuk mengikuti kata-katamu. Tapi jika pada akhirnya kamu tidak dapat menempati peringkat pertama, itu akan jadi masalah bagi kami."

"Dengan kata lain?"

"Jika kamu tidak berhasil menempati peringkat pertama, kamu harus bekerja sama dalam ujian khusus di masa depan dan berjanji memberikan hasil yang memuaskan."

Aku bisa mendengar dengan jelas napas berat Keisei di sebelahku, mendengar pembicaraan kedua orang itu.

Itu adalah syarat tambahan yang bagus. Jika Kouenji kebetulan menempati peringkat pertama, itu merupakan kabar gembira. Bahkan jika dia tidak dapat meraihnya, dia akan berkontribusi dalam ujian khusus berikutnya. Tidak peduli bagaimanapun hasilnya, Kelas D tidak akan dirugikan.

Sisanya tergantung pada Kouenji, apakah dia akan menerima syarat itu atau tidak...

"Sepertinya kau sekarang sudah percaya diri memberi ORDER (Perintah), Horikita-girl."

"Kalau kamu setuju dengan syaratku, aku akan menerima tawaranmu."

"Kalau begitu kita sepakat. Horikita-girl, tolong jangan lupakan syaratku tadi."

Meskipun ada syarat tambahan, Kouenji menyatakan kesepakatannya.

"Apa kamu serius akan meraih peringkat pertama seorang diri?"

"Tentu saja. Lagi pula, tidak ada yang mustahil bagiku."

Meskipun Horikita meminta sesuatu yang tidak masuk akal pada Kouenji, dia terkejut melihat Kouenji menerimanya dengan percaya diri.

"Kalau begitu, pembicaraan kita selesai. Aku pergi dulu."

Kouenji terlihat puas setelah mencapai kesepakatan, dia pun meninggalkan ruang kelas.

Tidak ada satu pun yang memanggil Kouenji, kami hanya melihatnya pergi begitu saja.

"Aku tidak tahu seberapa serius dia kali ini..."

"Yah, kau benar."

“Tapi ini adalah kesempatan yang langka. Aku berhasil membuatnya berjanji untuk memberi kontribusi di masa depan."

Sejujurnya, lebih baik kita tidak percaya begitu saja dengan kata-katanya, tapi ini adalah perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kouenji sendiri membutuhkan semacam bantuan untuk bebas menjalani kehidupan sekolahnya di masa depan.

Jika dia tetap bertindak seperti sebelumnya, kelas kami akan jatuh ke kasta terbawah dan dia tidak akan dijadikan siswa prioritas yang harus dilindungi. Bahkan jika dia tidak mengajukan negosiasi, mau tak mau dia harus mengambil tindakan.

Tapi jika Horikita, pemimpin Kelas 2-D mengakuinya, maka ceritanya akan berbeda.

"Seandainya dia benar-benar mendapatkan peringkat teratas, kita harus bisa melampauinya."

Dengan berkata begitu, Horikita, mengalihkan pandangannya kepadaku.

"Kita menempati peringkat pertama, dan Kouenji-kun menempati peringkat kedua atau ketiga. Jika itu tercapai, kelas kita akan mendapatkan keuntungan yang besar. Kita juga dapat mengejar ketertinggalan selama ini."

Jika melakukan perhitungan sederhana, Kelas 2-D akan memperoleh 400 hingga 500 poin kelas. Total poin kelas kami akan menjadi 700-800 poin, dan kami akan naik ke Kelas B dalam sekali jalan.

Selain itu, Kouenji juga akan berkontribusi pada ujian khusus berikutnya...

"Tapi, ada satu hal yang mengganjal. Perilaku dan tindakan Kouenji tidak bisa ditebak."

Baik itu kemampuan fisik maupun akademik, kurasa tidak baik jika kita berpikir bahwa dia sudah menunjukkan potensi penuhnya. Aku yakin dia memiliki bakat yang luar biasa.

"Itu benar. Tapi, mencapai peringkat pertama dengan mudah adalah masalah yang berbeda."

Perwakilan dari kelas lain, Sakayanagi, Ichinose, dan Ryuuen, juga serius mengincar peringkat pertama.

Tentu saja, itu belum semuanya. Sejauh yang kuketahui, beberapa siswa yang berbakat seperti Housen dan Amasawa dari kelas satu, lalu Nagumo, Kiriyama, dan Kiryuuin dari kelas tiga, mereka semua juga mengincar peringkat pertama.

Meskipun sampai sekarang aku belum pernah mengatakannya, aku juga berniat untuk meraih peringkat pertama di ujian ini.


Siapakah yang akan mengambil peringkat pertama dua minggu kemudian?


Dan siapakah yang akan meninggalkan sekolah?


Musim panas yang panjang akan segera dimulai.


***


"Sekarang sudah memasuki akhir Juli. Cuacanya terasa semakin panas."

Tsukishiro menggumamkan itu sambil melihat bus besar yang memasuki sekolah satu persatu.

"Ya, itu benar."

Seorang siswa kelas satu membalas perkataan Tsukishiro tanpa emosi sedikitpun (wajah datar).

Tsukishiro terus berbicara tanpa melihat siswa tersebut.

"Segera selesaikan analisismu. Menundanya lebih lama lagi tidak akan ada untungnya."

"Maksudnya―Aku harus mengeluarkan Ayanokouji Kiyotaka?"

"Apakah itu terlalu berlebihan untukmu?"

"Aku sudah memastikan bahwa dia bukan lawan yang mudah untuk dikalahkan. Tidak, dari awal aku sudah tahu itu."

"Aku sudah membantu sebisaku. Karena itu, tidak mungkin lagi bagiku untuk memberi bantuan lebih dari ini."

Mendengar kata-kata itu, siswa tersebut teringat kembali bagaimana Tsukishiro sangat antusias dengan rencana ini.

"Maksudnya, tindakan anda sudah berlebihan?"

"Ya. Aku sudah menekan banyak anggaran untuk ujian khusus ini, dan yang lebih pentingnya lagi, aku membungkam pihak sekolah yang menentang aturan ketat yang kubuat untuk ujian."

"Berarti mulai sekarang, akan sulit untuk bertindak sebagai direktur pengganti?"

"Mungkin begitu. Tuduhan penipuan terhadap Direktur Sakayanagi seharusnya sudah selesai sekarang. Aku dapat mengetahui bahwa peranku di sini akan segera berakhir. Itu sebabnya, aku menyiapkan festival yang meriah di akhir jabatanku. Aku ingin Ayanokouji Kiyotaka dikeluarkan dari sekolah ini dengan cara apa pun. Mengerti?"

"―Mengerti. Aku tidak akan bimbang lagi."

"Bagus. Kalau begitu, silahkan mengamuk sesuka hatimu… di ujian khusus ini. Setelah semuanya selesai, kau dapat kembali menjalani kehidupanmu yang biasa. Mari kita kembali ke tempat kita yang seharusnya."

Gadis itu reflek mengalirkan kekuatan ke tangan kirinya, yang merupakan tangan dominannya. 

Tsukishiro melihatnya dari samping dengan tersenyum lembut.

"Aku mengharapkanmu—Nanase Tsubasa-san."




~Youzitsu 2nd Year Volume 2 End~



Komentar

Kang afk mengatakan…
Kenapa harus nanase ahhhh~~
AditKrisna mengatakan…
Hmm aku tak sabar melihat gimana perang nanti akan berjalan
Unknown mengatakan…
Ga sabar nunggu vol selanjutnga
Unknown mengatakan…
Hal" yang ditunggu di vol selanjutnya:
> Amukan Nanase dan trik pengeluaran Kiyotaka
> Keseriusan Kouenji
> Nasib Ike dan Shinohara
Unknown mengatakan…
Spoiler : Kushinda vs Amasawa
sahum mengatakan…
ane curiga sama anak kls 1 yg ngajak kushida jadi partnernya klo gak nanase, yg jdi murid white room
Unknown mengatakan…
Menurut gw murid white room gak cuma satu sih
(Mungkin ada yg Lain, kek amasawa atau yg laki2 jadi partner Kishida pas ujian tertulis )

Tinta Sang Mujahidah mengatakan…
walaupun dah ketahuan naanse tapi bukannya tsukihiro bilang mereka yang berarti bukan cuma satu nah gue mikir kalau nanase dah dibuka berarti peran dia yang mau ngejatohin kiyo bakal berakhir gak lama lagi. gasabar nunggu vol 4 nih thank yu min

Postingan populer dari blog ini

Classroom of the Elite 2nd Year Volume 2

Volume 2 Ilustrasi Prolog Chapter 1 Part 1 Chapter 1 Part 2 Chapter 1 Part 3 Chapter 1 Part 4 Chapter 1 Part 5 Chapter 2 Part 1 Chapter 2 Part 2 Chapter 2 Part 3 Chapter 3 Part 1 Chapter 3 Part 2 Chapter 3 Part 3 Chapter 3 Part 4 Chapter 3 Part 5 Chapter 3 Part 6 Chapter 3 Part 7 Chapter 3 Part 8 Chapter 3 Part 9 Chapter 3 Part 10 Chapter 3 Part 11 Chapter 4 Part 1 Chapter 4 Part 2 Chapter 4 Part 3 Chapter 4 Part 4 Chapter 4 Part 5 Chapter 4 Part 6 Chapter 4 Part 7 Chapter 5 Part 1 Chapter 5 Part 2 Chapter 5 Part 3 Chapter 5 Part 4 Epilog [PDF] SS Amasawa Ichika SS Horikita Suzune SS Tsubaki Sakurako SS Shiina Hiyori

Classroom of the Elite 2nd Year Volume 1

Volume 1 Prolog Chapter 1 Chapter 2 Chapter 3 Chapter 4 Chapter 5 Part 1 Chapter 5 Part 2 Chapter 5 Part 3 Chapter 5 Part 4 Chapter 6 Part 1 Chapter 6 Part 2 Epilog SS Horikita Suzune SS Nanase Tsubasa I SS Nanase Tsubasa II SS Karuizawa Kei

Classroom of the Elite 2nd Year Volume 2 Chapter 1 Part 1

Chpater 1 : Perubahan dalam Kehidupan Sekolah (Part 1) Pada hari itu, Kelas 2-D menghadapi situasi aneh yang belum pernah terjadi sebelumnya. Teruhiko Yukimura berkali-kali menghentakkan kakinya, sambil melihat ke arah pintu masuk kelas. "Bisakah kamu tenang sedikit? Ini bahkan belum sampai 5 menit sejak Kiyopon pergi. Dia dipanggil oleh sensei, kan? Berarti dia tidak akan kembali dalam waktu dekat." Hasebe Haruka, teman sekelas sekaligus teman terdekat, berkata begitu kepada Yukimura. Sakura Airi dan Miyake Akito duduk di sebelahnya. "Aku sudah tenang... tidak perlu khawatir," jawab Yukimura. Meskipun dia berhenti menghentakkan kaki, tidak lama setelah itu dia kembali tegang. Diam-diam dia mulai menghentakkan kakinya ke atas dan ke bawah, hingga menggesek celananya. Yukimura berencana untuk bicara dengan Ayanokouji sepulang sekolah, tapi dia menundanya karena kehadiran Horikita. Kemudian dia mendengar dari gadis itu bahwa Chabashira memanggilny