Langsung ke konten utama

Spy Room Volume 1 Chapter 1 Part 1

Chapter 1 : Ancaman (Part 1)



Dunia dipenuhi oleh penderitaan.

Perang terbesar dalam sejarah, meninggalkan luka yang sangat dalam, dan penderitaan yang luar biasa. Peperangan itu berakhir dengan menyerah nya Kekaisaran Galgado, tapi jumlah korban di pihak lain melebihi 10 juta jiwa, dengan kata lain.. itu adalah perang tanpa ada pemenang.

Sebagian besar korban adalah warga sipil. Tapi itu memang sifat khusus dari peperangan.

Perang tidak lagi menggunakan pedang dan panah. Melainkan dengan teknologi dan ilmu pengetahuan, kekuatan dari senjatanya sangat berbeda dari senjata di masa lalu. Senapan mesin ringan, gas beracun, dan ranjau darat.. senjata yang sangat mengerikan untuk membunuh manusia.

Pada saat-saat akhir peperangan, kedua belah pihak telah kehilangan akal sehat dan kemanusiaan mereka. Pembantaian terjadi dimana-mana, tidak peduli korbannya itu wanita atau anak-anak.

Setelah perang berakhir, para politisi di seluruh dunia yang melihat bencana itu akhirnya menyadari dampaknya.

Biaya kinerja pada perang ini sangatlah buruk.

Bagaimanapun, perang hanya lah salah satu alat diplomatik bagi mereka.

Seandainya mereka memilih langkah alternatif, mungkin semuanya bisa di selesaikan dengan baik.

Demi mendapatkan hak pertambangan atau semacamnya, tidak perlu sampai mengeluarkan senjata. Lebih baik menjalankan kontrak dengan menggunakan trik licik atau tipuan pada politisi dari negara musuh. Masih banyak cara lain. Misalnya, mengancam dan mengambil sandera, menjanjikan uang dan tempat tinggal yang aman, atau menawarkan wanita yang sesuai selera.. semua itu bisa saja dilakukan. Bahkan jika harus melakukannya melalui skandal atau pembunuhan, selama keburukannya hilang dari media, semuanya akan baik-baik saja. Metode itu lebih baik daripada melakukan peperangan yang merenggut jutaan nyawa.

Satu-satunya cara untuk mewujudkan perdamaian adalah memerintah secara resmi.

Oleh karena itu, seluruh politisi di dunia menandatangani perjanjian untuk mendirikan organisasi internasional dengan berkeyakinan akan perdamaian. Pada pertemuan pertama, para pemimpin di seluruh dunia berdiri berdampingan dan saling berjabat tangan, dengan wajah tersenyum. Dengan demikian, [Perang Cahaya] pun berakhir. Namun yang terjadi selanjutnya adalah perang informasi, atau bisa disebut [Perang Bayangan], perang yang di lakukan oleh para mata-mata.

*

Republik Deen merupakan salah satu negara yang termasuk sebagai korban peperangan.

Pada awalnya, Deen hanya lah sebuah negara dengan sistem pedesaan yang tak ada kaitan nya sama sekali dengan peperangan.

Meskipun mereka tertinggal selama masa revolusi indrusti, mereka terus menghasilkan produk pertanian berkualitas tinggi.

Tidak ada kekuatan politik untuk memperluas kekuasaan kolonial, tidak ada sumber daya untuk menyerang.

Tapi pada saat itu, mereka dipaksa bersatu dengan Kekaisaran Galgado yang mengendalikan dunia, mereka menerima invasi sepihak, sehingga menderita banyak korban jiwa.

Setelah perang berakhir, mereka mematuhi kebijakan nasional, tapi mereka juga fokus mendidik mata-mata untuk memenangkan [Perang Bayangan].

Di butuhkan waktu 10 tahun untuk mendirikan fasilitas pendidikan mata-mata di seluruh penjuru negeri.

Ratusan pengintai menculik anak-anak, lalu mengirim mereka ke sekolah pelatihan mata-mata. Kemudian di lakukan seleksi yang ketat. Mata-mata yang tak berpengalaman sama saja dengan sebuah kejahatan. Sekolah pelatihan menetapkan ujian yang ketat setiap tahun nya, untuk menseleksi jumlah lulusan. Bahkan ada yang tewas saat melaksanakan ujian khusus yang mengerikan itu ...

"Eh? Aku lulus tanpa perlu mengikuti ujian!? Yay~"

Hari ini, terjadi sebuah pengecualian.

Setelah memanggil seorang gadis ke ruangannya, kepala sekolah menghela nafas panjang.

"Ini hanya sementara, bukan kelulusan yang sebenarnya."

"Tapi, sekarang aku bisa bekerja sebagai mata-mata yang sebenarnya, kan? Selama ini aku selalu berada di ambang kegagalan..."

"Yah, itu benar..."

―Kenapa harus gadis ini? Kepala sekolah berpikir begitu sambil melihat sebuah dokumen yang ada di tangannya.

Nama gadis itu adalah Lily, umur 17 tahun. Mendapatkan nilai yang bagus dalam ujian tertulis, sepertinya dia memiliki keistimewaan tertentu. Namun, dia mendapatkan nilai yang buruk di ujian praktek. Dia berulang kali melakukan kesalahan besar, dan hampir dikeluarkan dari sekolah. Bahkan instruktur yang bertanggung jawab terhadap diri nya, mengira dia akan di keluarkan pada ujian berikutnya.

Kepala sekolah sekali lagi menatap Lily, dia penasaran apakah Lily di evaluasi berdasarkan penampilannya. Rambut perak berkilauan, wajah cantik dan payudara yang wah, itu bahkan terlihat jelas di balik pakaian yang dia kenakan saat ini. Meskipun 17 tahun masih di anggap terlalu muda, banyak pria yang lebih suka dengan gadis usia segitu. Keberadaan yang mampu memikat dan menipu para pria. Dengan kata lain, jebakan seperti madu.

"... Kau, apa kau memiliki keahlian dan teknik untuk menggoda orang?"

"Eh? Eeeeeeeh? T-Tidak, itu mustahil. Aku tidak ahli dalam hal-hal berbau mesum."

"Bagi mata-mata wanita, itu merupakan teknik yang mematikan."

"Jangan memintaku untuk melakukan hal yang mustahil ... Eh, jangan-jangan, misiku adalah ..."

"Bukan."

"Haaah~ Syukurlah~"

Lily merasa lega dan meletakkan tangan nya di dada.

Kepala sekolah mendesah kembali. Mungkin pihak lain memilih Lily, karena mengetahui situasi yang mengerikan ini.

"Tunggu dulu, sebenarnya, aku sendiri belum mendengar detailnya."

Kepala sekolah memberikan tatapan yang kuat pada Lily.

"Apa kau tau '[Fukanou Ninmu]'?"

(Tl note : ' Misi Mustahil)

Lily menutup mulutnya dengan satu tangan.

"Umm ... Kalau tidak salah itu julukan dari sebuah misi yang pernah gagal di selesaikan?"

"Tepat sekali." Kepala sekolah menjetikkan jarinya.

"Sebuah misi yang gagal di lakukan oleh mata-mata dan tentara, atau bisa di bilang misi yang mustahil untuk di selesaikan karena tingkat kesulitan nya yang sangat tinggi. Itulah [Fukanou Ninmu]."

"Hmm ..."

"Dan sebuah tim khusus telah dibentuk, untuk menyelesaikan [Fukanou Ninmu]."

"Eh?" mata Lily terbuka lebar mendengarnya.

Kepala sekolah mengangguk sebagai tanggapan atas keterkejutan nya itu.

Jika mencoba misi yang pernah gagal sekali, kesulitannya akan semakin bertambah. Target akan lebih waspada dan metode yang pernah di gunakan sebelumnya tidak akan bisa di pakai lagi. Selain itu, informasi telah bocor karena kegagalan sebelumnya.

Jangan pernah mencoba misi yang mustahil―di dunia ini, itu merupakan hal yang wajar bagi mata-mata.

Dan juga misi ini diberikan kepada sebuah tim khusus yang belum pernah ada sebelumnya.

"Nama timnya adalah [Akari], kau akan ditugaskan ke dalam tim ini."

Ekspresi wajah Lily menjadi kaku.

Kepala sekolah menurunkan nada bicaranya, dan melanjutkan penjelasan secara rinci.

"Aku akan mengatakan yang sejujurnya. Kau memiliki potensi. Wajah yang cantik, keistimewaan di bagian tertentu, dan pintar. Aku bisa tahu kau akan semakin berkembang di masa depan nanti."

"Fufu, sudah agak lama sejak aku dipuji seperti itu."

"Itu juga bisa diartikan, kelebihanmu hanya itu saja."

"......"

"Pihak sekolah telah menilaimu sebagai siswa gagal yang hampir di keluarkan dari sekolah. Tanpa adanya kelalaian, hasil evaluasi dari guru adalah [Kau tidak memiliki kemampuan sebagai mata-mata]. Misi mustahil memiliki tingkat keberhasilan kurang dari 10% dan tingkat kematian lebih dari 90%, bahkan untuk mata-mata kelas atas. Tak terlintas sedikit pun di benak ku bahwa kau akan mampu melaksanakan misi ini."

"Tingkat kematian 90% ..."

"Lily, apa kau masih ingin bergabung dengan [Akari]?"

Wajar untuk merasa khawatir. Terlebih lagi, gadis ini sering melakukan kesalahan.

Saat ujian praktek sebulan yang lalu, gadis ini menjatuhkan senjata tepat di depan target nya.

Empat bulan yang lalu, dia tersesat di jalan, nyaris tidak berhasil menyelesaikan ujian dalam batas waktu yang ditentukan.

Tujuh bulan yang lalu, kata sandi curian di buang ke dalam toilet.

Dia hanya lulus ujian ketika diri nya berada di bawah tekanan yang besar atau di saat-saat yang genting.

Bahkan kepala sekolah merasa kasihan padanya.

Apakah aku akan mengirim gadis ini hanya untuk mati sia-sia?

"... Kepala sekolah, kamu mengatakan ini karena bersimpati padaku, kan?" Lily mengarahkan pandangannya ke bawah.

"Ya, karena itulah dadaku terasa sakit. Aku merasa hatiku akan hancur ..."

"... Aku tidak ingin muridku mati sia-sia."

Tentu saja, kepala sekolah tidak bisa memutuskan seenaknya. Sebab, penugasan Lily untuk misi ini berasal dari organisasi yang lebih tinggi dari sekolah pelatihan. Namun, jika orang itu sendiri yang menolak, mungkin masih bisa dipertimbangkan―

"Aku akan bergabung dengan [Akari]. Aku tidak akan melarikan diri."

Gadis itu, menyatakan dengan bangga.

"Codename [Hanazono], aku sudah siap mati demi menyelesaikan misi."

Sesuai perkataan gadis itu, tekad yang kuat terpancar dari matanya yang indah.

Melihat itu, kepala sekolah menjadi yakin kalau dia akan baik-baik saja.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Classroom of the Elite 2nd Year Volume 2

Volume 2 Ilustrasi Prolog Chapter 1 Part 1 Chapter 1 Part 2 Chapter 1 Part 3 Chapter 1 Part 4 Chapter 1 Part 5 Chapter 2 Part 1 Chapter 2 Part 2 Chapter 2 Part 3 Chapter 3 Part 1 Chapter 3 Part 2 Chapter 3 Part 3 Chapter 3 Part 4 Chapter 3 Part 5 Chapter 3 Part 6 Chapter 3 Part 7 Chapter 3 Part 8 Chapter 3 Part 9 Chapter 3 Part 10 Chapter 3 Part 11 Chapter 4 Part 1 Chapter 4 Part 2 Chapter 4 Part 3 Chapter 4 Part 4 Chapter 4 Part 5 Chapter 4 Part 6 Chapter 4 Part 7 Chapter 5 Part 1 Chapter 5 Part 2 Chapter 5 Part 3 Chapter 5 Part 4 Epilog [PDF] SS Amasawa Ichika SS Horikita Suzune SS Tsubaki Sakurako SS Shiina Hiyori

Classroom of the Elite 2nd Year Volume 1

Volume 1 Prolog Chapter 1 Chapter 2 Chapter 3 Chapter 4 Chapter 5 Part 1 Chapter 5 Part 2 Chapter 5 Part 3 Chapter 5 Part 4 Chapter 6 Part 1 Chapter 6 Part 2 Epilog SS Horikita Suzune SS Nanase Tsubasa I SS Nanase Tsubasa II SS Karuizawa Kei

Classroom of the Elite 2nd Year Volume 2 Chapter 1 Part 1

Chpater 1 : Perubahan dalam Kehidupan Sekolah (Part 1) Pada hari itu, Kelas 2-D menghadapi situasi aneh yang belum pernah terjadi sebelumnya. Teruhiko Yukimura berkali-kali menghentakkan kakinya, sambil melihat ke arah pintu masuk kelas. "Bisakah kamu tenang sedikit? Ini bahkan belum sampai 5 menit sejak Kiyopon pergi. Dia dipanggil oleh sensei, kan? Berarti dia tidak akan kembali dalam waktu dekat." Hasebe Haruka, teman sekelas sekaligus teman terdekat, berkata begitu kepada Yukimura. Sakura Airi dan Miyake Akito duduk di sebelahnya. "Aku sudah tenang... tidak perlu khawatir," jawab Yukimura. Meskipun dia berhenti menghentakkan kaki, tidak lama setelah itu dia kembali tegang. Diam-diam dia mulai menghentakkan kakinya ke atas dan ke bawah, hingga menggesek celananya. Yukimura berencana untuk bicara dengan Ayanokouji sepulang sekolah, tapi dia menundanya karena kehadiran Horikita. Kemudian dia mendengar dari gadis itu bahwa Chabashira memanggilny