Langsung ke konten utama

Classroom of the Elite 2nd Year Volume 3 Chapter 8 Part 2

 Chapter 8 Part 2


Setelah mendapatkan bonus Early Bird sepuluh poin di area pertama, kami memutuskan untuk menunggu Task yang cocok muncul di area sekitar. Namun, mungkin karena cuaca yang buruk, jumlah Task yang muncul lebih sedikit dibanding kemarin, dan kami tidak menemukan satu pun yang bisa diikuti.

Pada akhirnya, kami menghabiskan waktu dengan bersantai selama satu setengah jam.

Lalu, tepat pada pukul 9 pagi, area kedua hari ini diumumkan. Kali ini, tujuan kami adalah area E2 yang ditentukan secara acak.

Untuk sebuah penunjukan acak, sebenarnya lokasi ini tidak terlalu jauh.

Aku ingin mencoba mencapainya sebisa mungkin, tapi...

"Kita harus benar-benar memikirkan bagaimana cara menuju ke sana, kan?"

"Ya."

Kalau ingin sampai secepat mungkin, jalur langsung menyeberangi pegunungan di D2 dan D3 mungkin merupakan pilihan terbaik.

Kalau kondisinya sama seperti kemarin, mungkin aku sudah memilih rute itu tanpa ragu-ragu.

Namun, sepertinya cuaca tidak akan bertahan lebih lama lagi.

Begitu hujan turun, jalur yang biasanya ramai dilewati akan menjadi sulit dilalui.

"Bagaimana sebaiknya kita maju?"

"Hmm... kurasa jalan memutar adalah pilihan paling aman."

Kalau nantinya hujan semakin deras dan kelihatan terlalu berbahaya, kami cukup berhenti saja di tengah jalan.

"Aku mengerti. Tergantung cuacanya nanti, mungkin kita tidak akan bisa melanjutkan perjalanan."

Meskipun berkata begitu, wajahnya tampak tidak puas.

"Tapi menurutku pribadi, aku lebih memilih menlewati gunung."

"Kalau hujan turun, akan sulit menemukan pijakan yang pas. Itu terlalu berbahaya."

Bahkan aku sendiri tidak bisa menyangkal rasa takut akan kemungkinan terpeleset dan jatuh.

"Aku percaya sebagian besar lawan kita akan memilih jalan memutar karena mengantisipasi cuaca. Tapi justru karena itulah, ini kesempatan emas untukmu mendapatkan Early Bird Bonus lagi, bukankah begitu? Ayo kita berlari sebelum hujan turun."

Selama beberapa hari terakhir kami bepergian bersama, belum pernah sekalipun dia menentang keputusanku tentang arah perjalanan.

Itu adalah bentuk kesopanan paling dasar sebagai seseorang yang meminta untuk menemaniku.

Tentu saja, Nanase pasti sadar akan hal itu ketika ia memutuskan untuk mengutarakan pendapatnya.

Aku juga tidak berpikir dia mengatakan itu hanya untuk memaksaku berubah pikiran.

"Kalau aku tidak memilih jalur gunung, bagaimana?"

Untuk memastikan, aku melontarkan pertanyaan itu padanya.

Sejenak, ia tampak ragu apakah harus menjawab atau tidak, tapi akhirnya matanya menatap lurus ke arahku.

"... Kalau begitu, aku akan mencoba melewati gunung sendirian."

"Ada batas untuk seberapa tidak efektif kau bisa bertindak. Housen dan Amasawa mungkin saja tidak sempat tiba di E2 tepat waktu."

Bahkan jika Nanase berhasil mencapai area yang ditentukan lebih dulu, tidak ada jaminan dia akan mendapatkan Early Bird Bonus.

Dan sekalipun ia berhasil menyeberangi gunung sebelum cuaca memburuk, tidak ada gunanya jika dua anggota kelompoknya yang lain tidak tiba dalam rentang waktu yang sama.

Lalu, mengapa kali ini dia begitu terobsesi untuk melewati gunung?

Meski aku sebenarnya tidak keberatan jika dia pergi sendiri, tetap saja berbahaya bagi seorang gadis melewati gunung sendirian.

Aku memang tidak merasa bertanggung jawab penuh atas dirinya, tapi setidaknya aku ingin bisa melepasnya pergi dengan tenang ketika aku sudah lebih yakin akan keselamatannya.

Selain itu, aku juga masih belum mengetahui alasan sebenarnya kenapa dia meminta untuk bepergian bersamaku.

Kalau aku memilih berpisah dengannya sekarang, mungkin aku tidak akan pernah menemukan jawabannya.

"Baiklah. Kalau kau sudah memutuskan, maka aku akan ikut denganmu."

"Terima kasih banyak, Senpai."

Saat aku melihat ekspresinya, aku mulai memahami sesuatu.

Bahwa dia benar-benar yakin aku akan memilih untuk menemaninya menyeberangi gunung.

"Kalau rutenya sudah diputuskan, sebaiknya kita segera berangkat."

Akan menyedihkan rasanya kalau setelah semua ini, kami hanya mendapat satu poin saja.

Kami bergerak ke arah timur untuk beberapa saat, namun tak lama kemudian jalannya mulai menanjak, dan angin bertiup semakin kencang.

Langit perlahan berubah menjadi abu-abu pekat dan lebih gelap. Rasanya hujan bisa turun kapan saja.

Aku membuka tablet untuk mengecek posisi kami saat ini, dan GPS menunjukkan bahwa kami hampir mencapai batas area D3.

Sejauh yang kuharap, semoga saja kami bisa bertahan sampai berhasil mencapai area tujuan—

Namun, dari belakangku, aku mulai mendengar napas Nanase yang tidak teratur.

Kami sebenarnya belum melakukan sesuatu yang terlalu berat hari ini, jadi terlalu cepat rasanya baginya sampai kehabisan napas.

Apakah ini akibat dari kelelahan yang menumpuk selama beberapa hari terakhir?

Kalau dia memang merasa tidak enak badan, pilihan terbaik adalah mendirikan tenda, beristirahat, dan menunggu cuaca membaik. Jika dia sampai jatuh sakit, kondisinya pasti akan dilaporkan ke sekolah lewat jam tangan pengawasnya.

Aku memutuskan untuk sedikit memperlambat langkah, cukup agar dia tidak menyadarinya. Kalau dia sendiri menyerah dan meminta istirahat, kami akan berhenti saat itu juga. Tapi, jelas dia bukan tipe yang mudah menyerah begitu saja. Jika ternyata aku masih perlu melambat lebih jauh, maka aku harus memaksanya berhenti dan memikirkan langkah berikutnya.

Langkah demi langkah, kami berdua mendaki lereng gunung dalam diam. Suhu turun drastis, sementara kelembapan udara meningkat setiap detiknya. Kami sama-sama mengenakan sepatu lari standar dari sekolah, yang jelas-jelas tidak cocok dipakai untuk menyeberangi medan seperti ini.

Seperti yang kuduga, semakin jauh kami berjalan, Nanase semakin melambat. Sudah saatnya bagi ku membuat keputusan.

Aku berhenti berjalan dan berbalik menghadapnya.

"Senpai...! Aku masih bisa—!"

"Berikan padaku ranselmu."

"Eh?"

"Kau tidak akan bisa mengikutiku kalau kau terus membawa ransel itu."

"Tidak... Bagaimana mungkin aku membiarkan Senpai membawa barang-barangku!?"

"Kau boleh bilang begitu kalau kau memang bisa menjaga kecepatan. Kalau terus begini, aku harus menyerah pada Early Bird Bonus. Kalau sudah begitu, lebih baik kau serahkan tasmu saja supaya kita bisa lanjut."

Antara menjaga gengsi dan menghadapi kenyataan, keduanya kini bertentangan.

Dan setelah aku mengangkat masalah ini, dia sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak.

"Tapi, ranselku cukup berat. Aku rasa itu akan merepotkan, bahkan untukmu, Senpai."

"Aku akan menentukannya sendiri setelah kau memberikannya padaku."

"... Baik, aku mengerti."

Dengan enggan, Nanase melepas ranselnya dan menyerahkannya padaku, wajahnya terlihat seakan bersalah. Walaupun isinya berbeda, beratnya ternyata tidak jauh beda dari tasku sendiri.

Dengan begitu, aku masih bisa mempertahankan kecepatan awal tanpa kesulitan.

Biasanya, paling mudah menopang beban ransel dengan otot punggung bawah, tapi karena aku sudah membawa tasku sendiri, itu tidak memungkinkan.

Sebagai gantinya, aku memilih untuk membawanya di depan tubuhku, lalu melanjutkan langkah.

"A-Apa kamu benar-benar bisa membawanya, Senpai?"

"Kalau kau masih punya waktu untuk bertanya begitu, lebih baik kau mulai berjalan."

Mendengarkan kata-kataku dengan serius, Nanase langsung menutup mulutnya dan mulai berjalan.

Kali ini, ia menempel di belakangku, menjaga jarak sekitar dua meter dengan langkah yang konsisten, saat kami terus maju.


...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Classroom of the Elite 2nd Year Volume 2

Volume 2 Ilustrasi Prolog Chapter 1 Part 1 Chapter 1 Part 2 Chapter 1 Part 3 Chapter 1 Part 4 Chapter 1 Part 5 Chapter 2 Part 1 Chapter 2 Part 2 Chapter 2 Part 3 Chapter 3 Part 1 Chapter 3 Part 2 Chapter 3 Part 3 Chapter 3 Part 4 Chapter 3 Part 5 Chapter 3 Part 6 Chapter 3 Part 7 Chapter 3 Part 8 Chapter 3 Part 9 Chapter 3 Part 10 Chapter 3 Part 11 Chapter 4 Part 1 Chapter 4 Part 2 Chapter 4 Part 3 Chapter 4 Part 4 Chapter 4 Part 5 Chapter 4 Part 6 Chapter 4 Part 7 Chapter 5 Part 1 Chapter 5 Part 2 Chapter 5 Part 3 Chapter 5 Part 4 Epilog [PDF] SS Amasawa Ichika SS Horikita Suzune SS Tsubaki Sakurako SS Shiina Hiyori

Classroom of the Elite 2nd Year Volume 1

Volume 1 Prolog Chapter 1 Chapter 2 Chapter 3 Chapter 4 Chapter 5 Part 1 Chapter 5 Part 2 Chapter 5 Part 3 Chapter 5 Part 4 Chapter 6 Part 1 Chapter 6 Part 2 Epilog SS Horikita Suzune SS Nanase Tsubasa I SS Nanase Tsubasa II SS Karuizawa Kei

Classroom of the Elite 2nd Year Volume 2 Chapter 1 Part 1

Chpater 1 : Perubahan dalam Kehidupan Sekolah (Part 1) Pada hari itu, Kelas 2-D menghadapi situasi aneh yang belum pernah terjadi sebelumnya. Teruhiko Yukimura berkali-kali menghentakkan kakinya, sambil melihat ke arah pintu masuk kelas. "Bisakah kamu tenang sedikit? Ini bahkan belum sampai 5 menit sejak Kiyopon pergi. Dia dipanggil oleh sensei, kan? Berarti dia tidak akan kembali dalam waktu dekat." Hasebe Haruka, teman sekelas sekaligus teman terdekat, berkata begitu kepada Yukimura. Sakura Airi dan Miyake Akito duduk di sebelahnya. "Aku sudah tenang... tidak perlu khawatir," jawab Yukimura. Meskipun dia berhenti menghentakkan kaki, tidak lama setelah itu dia kembali tegang. Diam-diam dia mulai menghentakkan kakinya ke atas dan ke bawah, hingga menggesek celananya. Yukimura berencana untuk bicara dengan Ayanokouji sepulang sekolah, tapi dia menundanya karena kehadiran Horikita. Kemudian dia mendengar dari gadis itu bahwa Chabashira memanggilny...